Rancangan Delineasi Aspiring Geopark DIY

Pengasih (6/9), dalam rangka pengembangan Warisan Geologi DIY dan penyiapan bahan usulan penetapan Geopark Rintisan/Aspiring Geopark DIY sebagai Geopark Nasional, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Kundha Niti Mandala Sarta Tata Sasana) Kabupaten Kulon Progo menghadiri acara Pembahasan Rancangan Delineasi Aspiring Geopark DIY yang diselenggarakan oleh Sekretariat Daerah DIY. Kegiatan berlangsung menggunakan aplikasi Zoom Meeting pada pukul 13.00 WIB dan dihadiri oleh Ismaryatun, A.Md selaku perwakilan dari Bidang Tata Ruang Dinas PTR Kabupaten Kulon Progo.

Mengingat rencana pengembangan kawasan melalui konsep Geopark datang ketika sebuah kawasan (daerah) sudah tumbuh dan berkembang lebih dahulu, sinkronisasi dan harmonisasi sangat diperlukan. Berbeda pendekatannya, ketika kawasan (daerah) tersebut masih belum banyak tumbuh dan berkembang, akan relatif lebih mudah untuk menginsertkan dalam rencana pengembangan wilayahnya. Namun, kondisi tersebut lantas tindak menjadi penghalang ketika konsep yang diusung oleh Geopark justru menawarkan konsep pengembangan kawasan yang terintegrasi dan ramah lingkungan, serta berkelanjutan.

Dalam kajian ini, pentahapan yang dilakukan dalam penentuan delineasi Geopark Rintisan/Aspiring Geopark Merapi Yogyakarta, dilakukan dengan mengklasifikasikan dalam dua area yang diintegrasikan dalam kesatuan geografis tunggal sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Presiden RI Tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark): yaitu area utama dan area penunjang. Delineasi kawasan Geopark adalah penentuan garis batas kawasan Geopark. Penentuan batas atau delineasi kawasan dilakukan berdasarkan:

  1. Kesatuan fenomena geologi penting;
  2. Sebaran keragaman geologi, keanekaragaman hayati, dan keragaman budaya yang terkait;
  3. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi;
  4. Arahan pemanfaatan ruang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah;
  5. Keputusan badan geologi mengenai sebaran warisan geologi.

Mempertimbangan beberapa hal diatas, pendekatan terpadu merupakan jalan tengah antara pendekatan sentralisasi yang menekankan pertumbuhan di wilayah pusat kota dan desentralisasi yang menekankan pada penyebaran investasi pada wilayah belakang (perdesaan), sebagaimana konsep pengelolaan Situs Warisan Geologi DIY yang tercantum dalam Pergub 40 2021, bahwa pengelolaan Situs Warisan Geologi DIY yang tersebar di 20 (dua puluh) lokasi, 4 (empat) Kabupaten dilakukan secara terintegrasi dan terpadu.

 

(oleh: Ulfah Khairunnisa)